Rabu, 25 Maret 2015

Makalah Entamoeba Histolytica

DOSEN PENGAMPUH      : SULASMI, SKM, M.KES
MATA KULIAH                  : PARASITOLOGI

ENTAMOEBA HISTOLYTICA



KELOMPOK 1 :
Ø  ADI HERMANTO                                                   PO.71.4.221.13.2.001
Ø  ANAUVIA HASDIN DUA LEMBANG                PO.71.4.221.13.2.004
Ø  SUKMAWATI                                                          PO.71.4.221.13.2.047

                                 
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR
KESEHATAN LINGKUNGAN
PRODI D.IV
2013/2014




KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah, merupakan satu kata yang pantas kami ucapkan kepada Allah SWT, yang karena bimbingan-Nya maka kami dapat menyelesaikan makalah parasitologi dengan judul "Entomoeba Histolytica".
Kami ucapkan terima kasih kepada pihak terkait yang telah membantu kami dalam menghadapi berbagai tantangan dalam penyusunan makalah ini.

Kami menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini.

Terima kasih dan semoga makalah ini dapat memberikan sumbangsih positif bagi kita semua.



Makassar, 14 April 2014

Penulis




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................         i
DAFTAR ISI ......................................................................................          ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................          1
A.    Latar belakang .......................................................................            .           1
B.     Rumusan Masalah ..................................................................            2
C.     Tujuan .....................................................................................           2
D.    Manfaat ...................................................................................           2
BAB II PEMBAHASAN ..................................................................           3
A.  Sejarah ....................................................................................            3
B.  Penyebaran .............................................................................            3
C.  Toksonomi ............................................................................. 4
D.  Morfologi ...............................................................................            4
E.   Siklus Hidup dan Habitat .......................................................           5
F.   Penyebab Penyakit .................................................................            8
G.  Pencegahan .............................................................................           8
BAB III PENUTUP .........................................................................            .           10       
A. Kesimpulan .............................................................................           10       
B. Saran ......................................................................................            ..          10
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................           ..          11



BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
   Entamoeba Histolytica, merupakan kelompok rhizopoda yang bersifat pathogen dan menyebabkan penyakit diare amoeba. Diare seperti ini biasanya disertai dengan darah dan lender akibat infeksi Entamoeba Histolytica.
   Entamoeba Histolytica, merupakan protozoa parasit anaerob, bagian genus Entamoeba. Dominan menjangkiti manusia dan kera, E. histolytica diperkirakan menulari sekitar 50 juta orang di seluruh dunia. Banyak buku yang menyatakan bahwa 10% dari populasi dunia terinfeksi protozoa ini. Namun sumber lain menyatakan setidaknya 90% dari infeksi ini adalah karena spesies Entamoeba kedua yaitu E. dispar. Mamalia seperti anjing dan kucing bisa menjadi transit infeksi, tetapi tidak ada bukti mengenai kontribusi nyata untuk terjadinya penularan dari kedua hewan ini.
   Entamoeba Histolytica, dapat menyebabkan penyakit infeksi seperti penyakit usus amuba atau disentri amuba yang di sebabkan oleh protozoa ini. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa ini merupakan penyakit disentri parah dimana kontaminasi ini dapat terjadi dikarenakan sistem pembuangan air kotor dan tinja tidak dikelola dengan baik sehingga dapat mencemari makanan dan minuman. Selain itu perilaku tidak mencuci tangan dengan menggunakan sabun setelah buang air besar dan penanganan makanan yang belum memenuhi aspek sanitasi makanan menyebabkan mikroorganisme penyebab diare leluasa menginfeksi host (manusia).
   Adapun hostpes dari protozoa ini adalah manusia dan nama penyakit yang disebabkan adalah amebiasis.
   Dengan mempelajari Entamoeba histolytica diharapkan kita mampu menekan terjadinya penularan infeksi Entamoeba histolytica.


B.     Rumusan Masalah

a.       Bagaimana sejarah dari protozoa Entamoeba histolytica?
b.      Seperti apa penyebaran penyakit dari Entamoeba histolytica?
c.       Bagaimana bentuk toksonomi dari Entamoeba histolytica?
d.      Bagaimana bentuk morfologi dari Entamoeba histolytica?
e.       Di manakah habitat dari Entamoeba histolytica?
f.       Seperti apa siklus hidup dari Entamoeba histolytica?
g.      Apa penyebab dari penyakit yang di sebabkan oleh Entamoeba histolytica?
h.      Bagaimanakah cara pencegahan penyakit yang disebabkan oleh Entamoeba histolytica?

C.    Tujuan
a.       Mengetahui sejarah dari protozoa Entamoeba histolytica.
b.      Mengetahui penyebaran penyakit dari Entamoeba histolytica.
c.       Mengetahui bentuk toksonomi dari Entamoeba histolytica.
d.      Mengetahui bentuk morfologi dari Entamoeba histolytica.
e.       Mengetahui habitat dari Entamoeba histolytica.
f.       Mengetahui siklus hidup dari Entamoeba histolytica.
g.      Mengetahui penyebab dari penyakit yang di sebabkan oleh Entamoeba histolytica.
h.      Mengetahui cara pencegahan penyakit yang disebabkan oleh Entamoeba histolytica.

D.    Manfaat
Bagi mahasiswa, makalah ini dapat digunakan sebagai sumber untuk belajar dan lebih memahami mengenai Entamoeba histolytica.



BAB II
PEMBAHASAAN

A.  SEJARAH

Entamoeba histolytica pertama kali ditemukan oleh Lösch (tahun 1875) dari tinja disentri seorang penderita di Leningrad, Rusia. Pada autopsi, Lössch menemukan E.histolytica bentuk trofozoit dalam ulkus usus besar, tetapi ia tidak mengalami hubungan kausal antar parasit ini dengan kelainan ulkus tersebut.
Pada tahun 1893 Quinche dan Roos menemukan E.histolytica bentuk kista, sedangkan Schaudin (1903) memberi nama spesies Entamoeba histolytica dan membedakannya dengan ameba yang juga hidup dalam usus besar yaitu Entamoebacoli.
Sepuluh tahun kemudian Walker dan Sellards di Filiphina membuktikan dengan eksperimen pada sukarelawan bahwa E.histolytica merupakan penyebab kolitis amebik dan E.coli merupakan parasit komensal dalam usus besar.
B.   PENYEBARAN
Penyebaran kosmoplolit ( seluruh dunia) tetapi banyak ditemukan di daerah yang tropis dengan keadaan sanitasi lingkungan yang kurang baik. Dalam suatu studi perbandingan pada tahun 1969 persentase sampel tinja yang positif untuk tropozoit dan atau kista Entamoeba histilytica ialah 7% di bangkok, 10 % di Calcuta,India. 50% di Meddelin (Colombia) dan 72% di San Jose (costa rica).
  
C.  TOKSONOMI
Bentuk toksonomi dari E.histolytica adalah sebagai berikut ;
            Kingdom          : Protozoa
            Phylum            : Sarcomastigophora
            Subphylum      : Sarcodina
            Kelas               : Lobosea
            Ordo                : Amoebida
            Family             : Endamoebidae
            Genus              : Entomoeba
            Species            : histolytica
D.      MORFOLOGI
Bentuk morfologi dari E.histolytic adalah termasuk dalam kelas Rhizopoda dalam Protozoa. Ada 2 bentuk dalam perkembangan hidupnya yaitu, bentuk tropozoit dan bentuk kista.Bentuk tropozoit Entamoeba histolytica dibagi menjadi 2 yaitu, bentuk histolitika dan bentuk minuta.
  •  Contoh gambar dari Entamoeba histolytica
            

*      Bentuk histolitika
– Ukuran 20-40 µm
– Ektoplasma bening homogen pada tepi sel dan terlihat nyata
– Endoplasma berbutir halus, tidak mengandung bakteri/sisa gandung sel eritrosit
        dan inti enemobia.
– Berkembangbiak dengan pembelahan biner
– Patogen pada usus besar, hati, paru-paru, otak, kulit dan vagina

*      Bentuk minuta
– Ukuran 10-20 µm
      – Ektoplasma tampak berbentuk pseupodium dan tidak terlihat nyata
      – Endoplasma berbutir kasar, mengandung bakteri/sisa makanan, mengandung
         inti entamoeba tetapi tidak mengandung eritrosi

*      Bentuk kista
– Ukuran 10-20 µm
      – Bentuk kista dibentuk sebagai bentuk dorman pertahanan terhadap lingkungan
      – Dinding kista dibentuk oleh hialin.
– Pada kista muda terdapat kromatid dan vakuola
– Kista immatur: kromosomsausage-lik e
      – Kista matang: 4 nukleus



E.       SIKLUS HIDUP DAN HABITAT

Siklus hidup dimulai dari manusia menelan makanan/minuman yang terkontaminasi oleh parasit tersebut, di lambung parasit tersebut tercerna, tinggal bentuk kista yang berinti empat (kista masak) yang tahan terhadap asam lambung masuk ke usus. Disini karena pengaruh enzym usus yang bersifat netral dan sedikit alkalis, dinding kista mulai melunak, ketika kista mencapai bagian bawah ileum atau caecum terjadi excystasi menjadi empat amoebulae.
Amoebulae tersebut bergerak aktif, menginvasi jaringan dan membuat lesi di usus besar kemudian tumbuh menjadi trophozoit dan mengadakan multiplikasi disitu, proses ini terutama terjadi di caecum dan sigmoidorectal yang menjadi tempat habitatnya. Dalam pertumbuhannya amoeba ini mengeluarkan enzym proteolytic yang melisiskan jaringan disekitarnya kemudian jaringan yang mati tersebut diabsorpsi dan dijadikan makanan oleh amoeba tersebut. Amoeba yang menginvasi jaringan menjalar dari jaringan yang mati ke jaringan yang sehat, dengan jalan ini amoeba dapat memperluas dan memperdalam lesi yang ditimbulkannya, kemudian menyebar melalui cara percontinuitatum, hematogen ataupun lymphogen mengadakan metastase ke organ-organ lain dan menimbulkan amoebiasis di organ-organ tersebut.
Metastase tersering adalah di hepar terutama lewat hematogen.
Setelah beberapa waktu oleh karena beberapa keadaan, kekuatan invasi dari parasit menurun juga dengan meningkatnya pertahanan dan toleransi dari host maka lesi mulai mengadakan perbaikan. Untuk meneruskan kelangsungan hidupnya mereka lalu mengadakan encystasi, membentuk kista yang mula-mula berinti satu, membelah menjadi dua, akhirnya menjadi berinti empat kemudian dikeluarkan bersama-sama tinja untuk membuat siklus hidup baru bila kista tersebut tertelan oleh manusia.
Parasit ini mengalami fase pre dan meta dalam daur hidupnya yaitu:

TrophozoitPrecysteCysteMetacyste—– Metacyste Trophozoit.
Trophozoit yang mengandung beberapa nukleus (uni nucleate trophozoit) kadang tinggal di bagian bawah usus halus, tetapi lebih sering berada di colon dan rectum dari orang atau monyet serta melekat pada mukosa. Hewan mamalia lain seperti anjing dan kucing juga dapat terinfeksi. Trophozoit yang motil berukuran 18-30 um bersifat monopodial (satu pseudopodia besar).
Cytoplasma yang terdiri dari endoplasma dan ektoplasma, berisi vakuola makanan termasuk erytrocyt, leucocyte, sel epithel dari hospes dan bakteria. Di dalam usus trophozoit membelah diri secara asexual. Trophozoit menyusup masuk ke dalam mukosa usus besar di antara sel epithel sambil mensekresi enzim proteolytik.
Di dalam dinding usus tersebut trophozoit terbawa aliran darah menuju hati, paru, otak dan organ lain. Hati adalah organ yang paling sering diserang selain usus. Di dalam hati trophozoit memakan sel parenkim hati sehingga menyebabkan kerusakan hati. Invasi amoeba selain dalam jaringan usus disebut amoebiasis sekunder atau ekstra intestinal. Trophozoit dalam intestinal akan berubah bentuk menjadi precystic. Bentuknya akan mengecil dan berbentuk spheric dengan ukuran 3,5-20 um. Bentuk cyste yang matang mengandung kromatoid untuk menyimpan unsur nutrisi glycogen yang digunakan sebagai sumber energi. Cyste ini adalah bentuk inaktif yang akan keluar melalui feses.
Cyste sangat tahan terhadap bahan kimia tertentu. Cyste dalam air akan bertahan sampai 1 bulan, sedangkan dalam feses yang mengering dapat bertahan sampai 12 hari. Bila air minum atau makanan terkontaminasi oleh cyste E. histolytica, cyste akan masuk melalui saluran pencernaan menuju ileum dan terjadi excystasi, dinding cyste robek dan keluar amoeba “multinucleus metacystic” yang langsung membelah diri menjadi 8 uninucleat trophozoit muda disebut “amoebulae”.
 Amoebulae bergerak ke usus besar, makan dan tumbuh dan membelah diri asexual. Multiplikasi (perbanyakan diri) dari spesies ini terjadi dua kali dalam masa hidupnya yaitu: membelah diri dengan “binary fission” dalam usus pada fase trophozoit dan pembelahan nukleus yang diikuti dengan cytokinesis dalam cyste pada fase metacystic.

Gambar siklus hidup Entamoeba Histolytica

F.        PENYEBAB PENYAKIT
1.         persediaan air yang terpolusi
2.         tangan infected food handler yang terkontaminasi
3.         kontaminasi oleh lalat dan kecoa
4.         penggunaan pupuk tinja untuk tanaman
5.         higiene yang buruk, terutama di tempat-tempat dengan populasi tinggi, seperti asrama, rumah sakit, penjara, dan lingkungan perumahan.

G.      PENCEGAHAN
1.   Tidak makan makanan mentah (sayuran,daging babi, daging sapi dan daging ikan), buah dan melon dikonsumsi setelah dicuci bersih dengan air.
2.   Minum air yang sudah dimasak mendidih baru aman.
3.   Menjaga kebersihan diri, sering gunting kuku, membiasakan cuci tangan menjelang makan atau sesudah buang air besar.
4.   Tidak boleh buang air kecil/besar di sembarang tempat, tidak menjadikan tinja segar sebagai pupuk; tinja harus dikelola dengan tangki septik, agar tidak mencemari sumber air.
5.   Di Taman Kanak Kanak dan Sekolah Dasar harus secara rutin diadakan pemeriksaan parasit, sedini mungkin menemukan anak yang terinfeksi parasit dan mengobatinya dengan obat cacing.
6.   Bila muncul serupa gejala infeksi parasit usus, segera periksa dan berobat ke rumah sakit.
7.   Meski kebanyakan penderita parasit usus ringan tidak ada gejala sama sekali, tetapi mereka tetap bisa menularkannya kepada orang lain, dan telur cacing akan secara sporadik keluar dari tubuh bersama tinja, hanya diperiksa sekali mungkin tidak ketahuan, maka sebaiknya secara teratur memeriksa dan mengobatinya.



BAB III
PENUTUP

A.           Kesimpulan

Entamoeba Histolytica, merupakan kelompok rhizopoda yang bersifat pathogen dan menyebabkan penyakit diare amoeba. Diare seperti ini biasanya disertai dengan darah dan lender akibat infeksi Entamoeba Histolytica.

B.            Saran

Agar terhindar dari penyakit yang disebabkan oleh cacing ada beberapa cara yang bisa dilakukan, yaitu :
1.      Minum air yang sudah dimasak mendidih baru aman.
2.      Menjaga kebersihan diri, sering gunting kuku, membiasakan cuci tangan menjelang makan atau sesudah buang air besar.
3.      Tidak boleh buang air kecil/besar di sembarang tempat, tidak menjadikan tinja segar sebagai pupuk; tinja harus dikelola dengan tangki septik, agar tidak mencemari sumber air.
4.       Bila sudah terjadi infeksi cacing tambang maka penderita harus segera di beri obat cacingan atau segera di bawa ke dokter untuk tindakan lebih lanjut



DAFTAR PUSTAKA

Anonim, https://www.msu.edu/course/zol/316/ehistax.htm, diakses tanggal 6 April 2014
Dwi, 2011, http://dwipoenya.wordpress.com/2011/01/12/324/ diakses tanggal 6 April 2014
Anonum, 2011, http://yavanava.blogspot.com/2011/01/entamoeba-histolytica30.html diakses tanggal 7 April 2014


0 komentar:

Makalah Entamoeba Histolytica

Written on 12.19.00 by Unknown

DOSEN PENGAMPUH      : SULASMI, SKM, M.KES
MATA KULIAH                  : PARASITOLOGI

ENTAMOEBA HISTOLYTICA



KELOMPOK 1 :
Ø  ADI HERMANTO                                                   PO.71.4.221.13.2.001
Ø  ANAUVIA HASDIN DUA LEMBANG                PO.71.4.221.13.2.004
Ø  SUKMAWATI                                                          PO.71.4.221.13.2.047

                                 
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR
KESEHATAN LINGKUNGAN
PRODI D.IV
2013/2014




KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah, merupakan satu kata yang pantas kami ucapkan kepada Allah SWT, yang karena bimbingan-Nya maka kami dapat menyelesaikan makalah parasitologi dengan judul "Entomoeba Histolytica".
Kami ucapkan terima kasih kepada pihak terkait yang telah membantu kami dalam menghadapi berbagai tantangan dalam penyusunan makalah ini.

Kami menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini.

Terima kasih dan semoga makalah ini dapat memberikan sumbangsih positif bagi kita semua.



Makassar, 14 April 2014

Penulis




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................         i
DAFTAR ISI ......................................................................................          ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................          1
A.    Latar belakang .......................................................................            .           1
B.     Rumusan Masalah ..................................................................            2
C.     Tujuan .....................................................................................           2
D.    Manfaat ...................................................................................           2
BAB II PEMBAHASAN ..................................................................           3
A.  Sejarah ....................................................................................            3
B.  Penyebaran .............................................................................            3
C.  Toksonomi ............................................................................. 4
D.  Morfologi ...............................................................................            4
E.   Siklus Hidup dan Habitat .......................................................           5
F.   Penyebab Penyakit .................................................................            8
G.  Pencegahan .............................................................................           8
BAB III PENUTUP .........................................................................            .           10       
A. Kesimpulan .............................................................................           10       
B. Saran ......................................................................................            ..          10
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................           ..          11



BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
   Entamoeba Histolytica, merupakan kelompok rhizopoda yang bersifat pathogen dan menyebabkan penyakit diare amoeba. Diare seperti ini biasanya disertai dengan darah dan lender akibat infeksi Entamoeba Histolytica.
   Entamoeba Histolytica, merupakan protozoa parasit anaerob, bagian genus Entamoeba. Dominan menjangkiti manusia dan kera, E. histolytica diperkirakan menulari sekitar 50 juta orang di seluruh dunia. Banyak buku yang menyatakan bahwa 10% dari populasi dunia terinfeksi protozoa ini. Namun sumber lain menyatakan setidaknya 90% dari infeksi ini adalah karena spesies Entamoeba kedua yaitu E. dispar. Mamalia seperti anjing dan kucing bisa menjadi transit infeksi, tetapi tidak ada bukti mengenai kontribusi nyata untuk terjadinya penularan dari kedua hewan ini.
   Entamoeba Histolytica, dapat menyebabkan penyakit infeksi seperti penyakit usus amuba atau disentri amuba yang di sebabkan oleh protozoa ini. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa ini merupakan penyakit disentri parah dimana kontaminasi ini dapat terjadi dikarenakan sistem pembuangan air kotor dan tinja tidak dikelola dengan baik sehingga dapat mencemari makanan dan minuman. Selain itu perilaku tidak mencuci tangan dengan menggunakan sabun setelah buang air besar dan penanganan makanan yang belum memenuhi aspek sanitasi makanan menyebabkan mikroorganisme penyebab diare leluasa menginfeksi host (manusia).
   Adapun hostpes dari protozoa ini adalah manusia dan nama penyakit yang disebabkan adalah amebiasis.
   Dengan mempelajari Entamoeba histolytica diharapkan kita mampu menekan terjadinya penularan infeksi Entamoeba histolytica.


B.     Rumusan Masalah

a.       Bagaimana sejarah dari protozoa Entamoeba histolytica?
b.      Seperti apa penyebaran penyakit dari Entamoeba histolytica?
c.       Bagaimana bentuk toksonomi dari Entamoeba histolytica?
d.      Bagaimana bentuk morfologi dari Entamoeba histolytica?
e.       Di manakah habitat dari Entamoeba histolytica?
f.       Seperti apa siklus hidup dari Entamoeba histolytica?
g.      Apa penyebab dari penyakit yang di sebabkan oleh Entamoeba histolytica?
h.      Bagaimanakah cara pencegahan penyakit yang disebabkan oleh Entamoeba histolytica?

C.    Tujuan
a.       Mengetahui sejarah dari protozoa Entamoeba histolytica.
b.      Mengetahui penyebaran penyakit dari Entamoeba histolytica.
c.       Mengetahui bentuk toksonomi dari Entamoeba histolytica.
d.      Mengetahui bentuk morfologi dari Entamoeba histolytica.
e.       Mengetahui habitat dari Entamoeba histolytica.
f.       Mengetahui siklus hidup dari Entamoeba histolytica.
g.      Mengetahui penyebab dari penyakit yang di sebabkan oleh Entamoeba histolytica.
h.      Mengetahui cara pencegahan penyakit yang disebabkan oleh Entamoeba histolytica.

D.    Manfaat
Bagi mahasiswa, makalah ini dapat digunakan sebagai sumber untuk belajar dan lebih memahami mengenai Entamoeba histolytica.



BAB II
PEMBAHASAAN

A.  SEJARAH

Entamoeba histolytica pertama kali ditemukan oleh Lösch (tahun 1875) dari tinja disentri seorang penderita di Leningrad, Rusia. Pada autopsi, Lössch menemukan E.histolytica bentuk trofozoit dalam ulkus usus besar, tetapi ia tidak mengalami hubungan kausal antar parasit ini dengan kelainan ulkus tersebut.
Pada tahun 1893 Quinche dan Roos menemukan E.histolytica bentuk kista, sedangkan Schaudin (1903) memberi nama spesies Entamoeba histolytica dan membedakannya dengan ameba yang juga hidup dalam usus besar yaitu Entamoebacoli.
Sepuluh tahun kemudian Walker dan Sellards di Filiphina membuktikan dengan eksperimen pada sukarelawan bahwa E.histolytica merupakan penyebab kolitis amebik dan E.coli merupakan parasit komensal dalam usus besar.
B.   PENYEBARAN
Penyebaran kosmoplolit ( seluruh dunia) tetapi banyak ditemukan di daerah yang tropis dengan keadaan sanitasi lingkungan yang kurang baik. Dalam suatu studi perbandingan pada tahun 1969 persentase sampel tinja yang positif untuk tropozoit dan atau kista Entamoeba histilytica ialah 7% di bangkok, 10 % di Calcuta,India. 50% di Meddelin (Colombia) dan 72% di San Jose (costa rica).
  
C.  TOKSONOMI
Bentuk toksonomi dari E.histolytica adalah sebagai berikut ;
            Kingdom          : Protozoa
            Phylum            : Sarcomastigophora
            Subphylum      : Sarcodina
            Kelas               : Lobosea
            Ordo                : Amoebida
            Family             : Endamoebidae
            Genus              : Entomoeba
            Species            : histolytica
D.      MORFOLOGI
Bentuk morfologi dari E.histolytic adalah termasuk dalam kelas Rhizopoda dalam Protozoa. Ada 2 bentuk dalam perkembangan hidupnya yaitu, bentuk tropozoit dan bentuk kista.Bentuk tropozoit Entamoeba histolytica dibagi menjadi 2 yaitu, bentuk histolitika dan bentuk minuta.
  •  Contoh gambar dari Entamoeba histolytica
            

*      Bentuk histolitika
– Ukuran 20-40 µm
– Ektoplasma bening homogen pada tepi sel dan terlihat nyata
– Endoplasma berbutir halus, tidak mengandung bakteri/sisa gandung sel eritrosit
        dan inti enemobia.
– Berkembangbiak dengan pembelahan biner
– Patogen pada usus besar, hati, paru-paru, otak, kulit dan vagina

*      Bentuk minuta
– Ukuran 10-20 µm
      – Ektoplasma tampak berbentuk pseupodium dan tidak terlihat nyata
      – Endoplasma berbutir kasar, mengandung bakteri/sisa makanan, mengandung
         inti entamoeba tetapi tidak mengandung eritrosi

*      Bentuk kista
– Ukuran 10-20 µm
      – Bentuk kista dibentuk sebagai bentuk dorman pertahanan terhadap lingkungan
      – Dinding kista dibentuk oleh hialin.
– Pada kista muda terdapat kromatid dan vakuola
– Kista immatur: kromosomsausage-lik e
      – Kista matang: 4 nukleus



E.       SIKLUS HIDUP DAN HABITAT

Siklus hidup dimulai dari manusia menelan makanan/minuman yang terkontaminasi oleh parasit tersebut, di lambung parasit tersebut tercerna, tinggal bentuk kista yang berinti empat (kista masak) yang tahan terhadap asam lambung masuk ke usus. Disini karena pengaruh enzym usus yang bersifat netral dan sedikit alkalis, dinding kista mulai melunak, ketika kista mencapai bagian bawah ileum atau caecum terjadi excystasi menjadi empat amoebulae.
Amoebulae tersebut bergerak aktif, menginvasi jaringan dan membuat lesi di usus besar kemudian tumbuh menjadi trophozoit dan mengadakan multiplikasi disitu, proses ini terutama terjadi di caecum dan sigmoidorectal yang menjadi tempat habitatnya. Dalam pertumbuhannya amoeba ini mengeluarkan enzym proteolytic yang melisiskan jaringan disekitarnya kemudian jaringan yang mati tersebut diabsorpsi dan dijadikan makanan oleh amoeba tersebut. Amoeba yang menginvasi jaringan menjalar dari jaringan yang mati ke jaringan yang sehat, dengan jalan ini amoeba dapat memperluas dan memperdalam lesi yang ditimbulkannya, kemudian menyebar melalui cara percontinuitatum, hematogen ataupun lymphogen mengadakan metastase ke organ-organ lain dan menimbulkan amoebiasis di organ-organ tersebut.
Metastase tersering adalah di hepar terutama lewat hematogen.
Setelah beberapa waktu oleh karena beberapa keadaan, kekuatan invasi dari parasit menurun juga dengan meningkatnya pertahanan dan toleransi dari host maka lesi mulai mengadakan perbaikan. Untuk meneruskan kelangsungan hidupnya mereka lalu mengadakan encystasi, membentuk kista yang mula-mula berinti satu, membelah menjadi dua, akhirnya menjadi berinti empat kemudian dikeluarkan bersama-sama tinja untuk membuat siklus hidup baru bila kista tersebut tertelan oleh manusia.
Parasit ini mengalami fase pre dan meta dalam daur hidupnya yaitu:

TrophozoitPrecysteCysteMetacyste—– Metacyste Trophozoit.
Trophozoit yang mengandung beberapa nukleus (uni nucleate trophozoit) kadang tinggal di bagian bawah usus halus, tetapi lebih sering berada di colon dan rectum dari orang atau monyet serta melekat pada mukosa. Hewan mamalia lain seperti anjing dan kucing juga dapat terinfeksi. Trophozoit yang motil berukuran 18-30 um bersifat monopodial (satu pseudopodia besar).
Cytoplasma yang terdiri dari endoplasma dan ektoplasma, berisi vakuola makanan termasuk erytrocyt, leucocyte, sel epithel dari hospes dan bakteria. Di dalam usus trophozoit membelah diri secara asexual. Trophozoit menyusup masuk ke dalam mukosa usus besar di antara sel epithel sambil mensekresi enzim proteolytik.
Di dalam dinding usus tersebut trophozoit terbawa aliran darah menuju hati, paru, otak dan organ lain. Hati adalah organ yang paling sering diserang selain usus. Di dalam hati trophozoit memakan sel parenkim hati sehingga menyebabkan kerusakan hati. Invasi amoeba selain dalam jaringan usus disebut amoebiasis sekunder atau ekstra intestinal. Trophozoit dalam intestinal akan berubah bentuk menjadi precystic. Bentuknya akan mengecil dan berbentuk spheric dengan ukuran 3,5-20 um. Bentuk cyste yang matang mengandung kromatoid untuk menyimpan unsur nutrisi glycogen yang digunakan sebagai sumber energi. Cyste ini adalah bentuk inaktif yang akan keluar melalui feses.
Cyste sangat tahan terhadap bahan kimia tertentu. Cyste dalam air akan bertahan sampai 1 bulan, sedangkan dalam feses yang mengering dapat bertahan sampai 12 hari. Bila air minum atau makanan terkontaminasi oleh cyste E. histolytica, cyste akan masuk melalui saluran pencernaan menuju ileum dan terjadi excystasi, dinding cyste robek dan keluar amoeba “multinucleus metacystic” yang langsung membelah diri menjadi 8 uninucleat trophozoit muda disebut “amoebulae”.
 Amoebulae bergerak ke usus besar, makan dan tumbuh dan membelah diri asexual. Multiplikasi (perbanyakan diri) dari spesies ini terjadi dua kali dalam masa hidupnya yaitu: membelah diri dengan “binary fission” dalam usus pada fase trophozoit dan pembelahan nukleus yang diikuti dengan cytokinesis dalam cyste pada fase metacystic.

Gambar siklus hidup Entamoeba Histolytica

F.        PENYEBAB PENYAKIT
1.         persediaan air yang terpolusi
2.         tangan infected food handler yang terkontaminasi
3.         kontaminasi oleh lalat dan kecoa
4.         penggunaan pupuk tinja untuk tanaman
5.         higiene yang buruk, terutama di tempat-tempat dengan populasi tinggi, seperti asrama, rumah sakit, penjara, dan lingkungan perumahan.

G.      PENCEGAHAN
1.   Tidak makan makanan mentah (sayuran,daging babi, daging sapi dan daging ikan), buah dan melon dikonsumsi setelah dicuci bersih dengan air.
2.   Minum air yang sudah dimasak mendidih baru aman.
3.   Menjaga kebersihan diri, sering gunting kuku, membiasakan cuci tangan menjelang makan atau sesudah buang air besar.
4.   Tidak boleh buang air kecil/besar di sembarang tempat, tidak menjadikan tinja segar sebagai pupuk; tinja harus dikelola dengan tangki septik, agar tidak mencemari sumber air.
5.   Di Taman Kanak Kanak dan Sekolah Dasar harus secara rutin diadakan pemeriksaan parasit, sedini mungkin menemukan anak yang terinfeksi parasit dan mengobatinya dengan obat cacing.
6.   Bila muncul serupa gejala infeksi parasit usus, segera periksa dan berobat ke rumah sakit.
7.   Meski kebanyakan penderita parasit usus ringan tidak ada gejala sama sekali, tetapi mereka tetap bisa menularkannya kepada orang lain, dan telur cacing akan secara sporadik keluar dari tubuh bersama tinja, hanya diperiksa sekali mungkin tidak ketahuan, maka sebaiknya secara teratur memeriksa dan mengobatinya.



BAB III
PENUTUP

A.           Kesimpulan

Entamoeba Histolytica, merupakan kelompok rhizopoda yang bersifat pathogen dan menyebabkan penyakit diare amoeba. Diare seperti ini biasanya disertai dengan darah dan lender akibat infeksi Entamoeba Histolytica.

B.            Saran

Agar terhindar dari penyakit yang disebabkan oleh cacing ada beberapa cara yang bisa dilakukan, yaitu :
1.      Minum air yang sudah dimasak mendidih baru aman.
2.      Menjaga kebersihan diri, sering gunting kuku, membiasakan cuci tangan menjelang makan atau sesudah buang air besar.
3.      Tidak boleh buang air kecil/besar di sembarang tempat, tidak menjadikan tinja segar sebagai pupuk; tinja harus dikelola dengan tangki septik, agar tidak mencemari sumber air.
4.       Bila sudah terjadi infeksi cacing tambang maka penderita harus segera di beri obat cacingan atau segera di bawa ke dokter untuk tindakan lebih lanjut



DAFTAR PUSTAKA

Anonim, https://www.msu.edu/course/zol/316/ehistax.htm, diakses tanggal 6 April 2014
Dwi, 2011, http://dwipoenya.wordpress.com/2011/01/12/324/ diakses tanggal 6 April 2014
Anonum, 2011, http://yavanava.blogspot.com/2011/01/entamoeba-histolytica30.html diakses tanggal 7 April 2014


If you enjoyed this post Subscribe to our feed